Berandasastera’s Blog

danarto: sastrwan sufi


Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940 Menjadi bumi bersejarah dari lahirnya Danarto, ia dikenal sebagai penulis dan sastrawan serta pelukis yang produktif di Indonesia. Karyanya yang terkenal diantaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Cerpen lain yang berjudul Adam Ma’rifat, memenangkan Hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1982 dan hadiah Buku Utama pada tahun 1982.

Ia pernah bergabung dengan Teater Sardono, yang pernah mendarat ke Eropa Barat dan Asia, pada tahun 1974. Dan di situ pula dia mengadakan pameran Kanvas Kosong (1973) juga berpameran puisi konkret (1978). Pada 1 Januari 1986, Danarto menyunting seorang gadis bernama Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Namun sayangnya umur pernikahan mereka harus kandas, pada umur pernikahan 15 tahun. Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman baik di dalam negeri dan di luar negeri. Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang. Karya-karyanya yaitu: Godlob, kumpulan cerpen, 1975, Adam Ma’rifat, kumpulan cerpen, 1982, Orang Jawa Naik Haji, catatan perjalanan ibadah haji, 1983, Setangkai Melati di Sayab Jibril.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa seorang Danarto termasuk sastrawan yang dianggap lamban dan tidak produktif, itupun diungkapkan sendiri oleh Danarto. Dalam kurun waktu 12 tahun 1975-1987 hanya muncul tiga buku kumpulan cerpen, yaitu Godlob pada tahun 1975, Adam Ma’rifat tahun 1982, dan Berhala tahun 1987. Namun semua itu tidak menjadikan buruk citra dia, karena dalam kurun waktu tersebut, dia juga menggeluti seni lain, yaitu melukis. Baginya, menulis dan melukis berjalan bersamaan. Sajian dalam karya sastra cerpen, tidaklah hanya dibutuhkan produk mentah yang menghidangkan sajian-sajian vulgar, tetapi butuh proses renungan dan pengendapan setelah melalui pergulatan visi, filosofi, dan latar sosio-kultural yang mengaduk-aduk emosi pembaca, sehingga pembaca dibuat penasaran dan haus akan karya dari pengarang terdahulunya. Bagaimanapun juga sebuah cerpen tak pernah tercipta dalam kekosongan imajinasi karena cerpen dibuat dari pengalaman dan impian. Artinya, cerpen akan selalu diwarnai oleh dunia menangkap fenomena-fenomena sosiokultural yang menggelisahkannya.

Ada yang bilang, jika Pramoedya adalah mata kanan Indonesia dalam dunia sastra, maka Danarto adalah mata kirinya. Keduanya sama produktifnya, Parmoedya dengan novel-novelnya lalu Danarto dengan cerpen-cerpennya. Jika karya Pramoedya kental dengan nuansa ke-Indonesian dan Nasionalismenya, maka karya Danarto kental dengan tradisi Jawa dan kesufiannya (yang agak menjurus-jurus ke wihdatul wujud).

Pada salah satu kumpulan cerpen yang berjudul Berhala, Danarto mencuat dengan gebrakan baru. Karena pada cerpen-cerpen terdahulunya sangat lekat dengan dunia alternatif yang kini bergeser pada dunia realitas yang manusiawi. Danarto kini berubah menjadi peka terhadap problem-problem sosial manusia kapitalis yang cenderung mekanis dan memola manusia untuk menghamba pada kepuasan hedonis. Barangkali Danarto telah punya pandangan lain tentang tidak semestinya cerpen-cerpennya berkutat pada keindahan sastra namun menyuguhkan realitas sosial yang kini terlalu menjadi benalu pada pemerintah kita. Dan menganggap sastra harus turut andil pada perubahan moral bangsa. Namun Danarto yang seorang jawa Islam yang taat dan dibesarkan di lingkungan budaya Jawa Tengah (Sragen, Solo, dan Yogya) terdoktrin pada kehidupan santri yang sufi, di mana semua pernyataan kehidupan menemukan ke-Esa-annya kepada Sang pencipta (Umar Kayam, 1987).

Namun begitu, cerpen-cerpennya bukanlah cerpen vulgar yang hanya mengaplikasikan doktrin sufi secara mentah, namun tetap menggunakan daya imajinasinya atau intuisi dalam membuat sebuah cerpen. Tampaklah bahwa cerpennya bukan sekadar mengobral doktrin mentah seperti orang berkhotbah. Danarto lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Tradisi berpikir sistematis belum menjadi miliknya.

Tak diragukan lagi, Danarto menciptakan cerpennya ke arah yang trendensental. Doktrin The Merging of Servant and Master (Manunggaling Kawula-Gusti) yang merupakan pancaran wahdat al-wujud senantiasa menjadi kiblat karyanya yang sangat religious namun tetap beraroma sastra yang indah. Hal ini tampak sekali pada salah satu cerpennya “Anakmu Bukanlah Anakmu, ujar Gibran” di mana Niken hamil tanpa seorang lelaki pun yang menjamahnya, meski pada akhirnya Niken menikah dengan pemuda Tomo yang miskin dan tak dikenalnya. Anehnya, pada pesta perkawinannya muncul Khalil Gibran –seorang tokoh sufi yang telah meninggal tahun 1931 datang memberikan kado. Atau, pada cerpen “Bulan Sepotong Semangka” (Kompas, 12 Juni 1988), tokoh Nari juga hamil tanpa seorang lelaki pun yang menyentuhnya, tanpa sesal. Bahkan, Nari yang bertapa di kamar abadinya. Tanpa makan dan minum sampai akhirnya ia melahirkan, bahkan sampai anaknya, Bim, dewasa, kuliah di Fisipol di universitas kamar abadinya dengan dosesnnya Nari sendiri. Itulah kehebatan Danarto, ia dapat mencuatkan doktrin sufinya pada cerpen tersebut. Betapapun masalah yang digarap sederhana. Tradisi kreativitas yang telah mengikatnya erat-erat tak mungkin ditinggalkannya. Danarto telah punya tradisi kepenulisan yang khas.

Karya-karya sastra Danarto diantaranya pohon Rambutan (Horison, April 2007), Gadis Kecil Melintas di Yerusalem (Republika, 02 Februari 2007), Jantung Hati (Kompas 16 Juli 2006), Ikan-ikan dari Laut Merah (Republika, 09 Juli 2006), Telaga Angsa (Kompas 26 Maret /2006), Lauk dari Langit (Republika, 03 Mei 2006), Nistagmus (Kompas, 05 Juni 2005), Kacapiring (20 Oktober 2002) merupakan bukti kuat dari kebenaran pandangan tersebut.

Hanya saja, apakah semua karya Danarto berkecenderungan sufistik? Bukankah pandangan tersebut hanya didasarkan pada karya-karya Danarto yang terpublikasi sebelum waktu terpublikasinya kritik sastranya Abdul Hadi W.M (Maret 2008)? Apakah setelah waktu itu, karya-karya Danarto masih dapat dipandang sebagai “berkecenderungan sufistik”? Bukankah banyak sastrawan yang “banting setir” demi tetap bisa eksis di dunia sastra?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: